MAKALAH
“FISIOLOGI
dan
MEKANISME
PERSALINAN NORMAL”
MATA
KULIAH
BIOLOGI REPRODUKSI
Disusun oleh :
1. Erischa agustina (02)
2. Eunike Theresia O (08)
3. Okta Rahma Yantin (11)
4. vina
tristia
(21)
D3 – KEBIDANAN
SEKOLAH TINGG ILMU
KESEHATAN
Patria
Husada Blitar
Jl.Sudanco
Supriyadi 168
Kota Blitar
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Keberhasilan setiap kehamilan, dan kelangsungan hidup
spesies pada akhirnya, bergantung pada lahirnya bayi yang sehat dan cukup
matang untuk bertahan hidup. Pada kehamilan dan persalinan, uterus harus
melakukan 2 fungsi yang sangat berbeda. Uterus harus tumbuh, tetapi dalam
keadaan tenang selama kehamilan agar janin dapat berkembang dan kemudian, pada
saat yang tepat, melakukan aktifitas yang kuat dan terkoordinasi yang
menyebabkan lahirnya bayi yang matang. Factor yang mengendalikan tradisi dari
suatu keadaan ke keadaan lain masih belum dipahami dengan jelas, tetapi sangat
penting untuk memahami, baik kemungkinan penyebab partus prematurus maupun
bagaimana mengindusi persalinan tanpa mengakibatkan kegawatan pada janin.
Sebagian besar bayi manusia dapat melewati masa
persalinan, dan lahir cukup bulan (didefinisikan antara akhir minggu ke-37 dan
ke 42 kehamilan). Lima persen bayi premature merupakan 85% dari semua kematian
neonatus dini yang tidak berkaitan dengan deformetas letal (lopez bernal et al,
1993). Semakin singkat usia genetasi, semakin buruk prognosis. Walaupun bayi
berat lahir rendah (yi., yang lahir dengan berat kurang dari 1000 gram)
sekarang mungkin dapat bertahan hidup, umumnya bayi tersebut memiliki angka
morbiditas yang tinggi dan menimbulkan distress berat bagi orang tuanya, serta
memerlukan biaya yang sangat besar di unit perawatan intensif neotatus. Dapat
dikatakan salah satu tujuan utama obsterti adalah mengurangi persalinan
premature.
Penentu awitan persalinan pada manusia masih merupakan
misteri. Terdapat perbedaan mencolok antara manusia dan spesies mamalia lain
dalam jalur faktor yang menuju persalinan. Masih belum jelas mengapa kejadian
yang menuju ke persalinan pada manusia harus sedemikian rumit atau apakah
lamanya genetasi yang bervariasi merupakan hal yang menguntungkan. Manusia
memiliki angka persalinan prematur yang sangat tinggi (sekitar 5-10%) dibanding
dengan spesies lain (kuran dari 1% pada domba). Secara teoritis, lama genetasi
kurang penting pada ibu. Aspek krusialnya adalah bayi yang dapat bertahan hidup
saat persalinan. Dengan demikian, tampak janin yang mengendalikan lama
genetasi. Pada hewan jelas terbukti adanya keterlibatan janin dalam menentukan
saat persalinan, tetapi sulit mendapatkan bukti serupa pada manusia.
Penatalaksanaan kebidanan wanita dalam persalinan
sering bersifat intervensionis.Berdasarkan
latar belakang di atas, kami tertarik untuk menyusun makalah dengan judul “FISIOLOGI
DAN MEKANISME PERSALINAN NORMAL”.
2.
Rumusan
Masalah
1.
Apa yang di maksud dengan persalinan ?
2.
Apa sebab terjadinya persalinan?
3.
Bagaimana tanda persalinan?
4.
Bagaimana perubahan fisilogi persalinan
setiap kala?
5.
Bagaimana mekanisme persalinan normal?
3.
Tujuan
1)
Agar mahasiswa mampu mengetahui tentang makna persalinan.
2)
Agar mahasiswa mampu mengetahui tentang penyebab
– penyebab terjadinya persalinan
3)
Agar mahasiswa mampu mengetahui tentang perubahan
– perubahan secara fisiologi setiapa kala persalian.
4)
Agar mahasiswa mengetahui mekanisme
persalinan
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Persalinan
Persalinan adalah
suatu proses pengeluaraan hasil konsepsi (janin+ uri), yang dapat hidup ke
dunia luar, dari rahim melalui jalan
lahir atau dengan jalan lain.
Persalinan
adalah suatu proses pengeluaran hasil
konsepsi yang dapat hidup dari dalm
uterus ke dunia luar. Persalinan dan kelahiran normal adalaha proses
pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan(37-42 minggu).lahir spontan
dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung selama 18 jsm , tanpa
komplikasi baik pada ibu maupun pada janin.(Prawirohardjo2002)
Beberapa istilah yang hubunganya
dengan partus:
1.
Menurut
cara persalinan
Ø Partus biasa
Disebut juga partus spontan, adalah proses
lahirnya bayi pada LBK dengan tenaga ibu sendiri,tanpa bantuan alat – alat
serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang 24 jam.
Ø Partus luar biasa
Persalinan pervaginam dengan bantuan alat
– alat atau melalui dinding perut dengan operasi caesarea.
2.
Menurut
umur kehamilan
ü Abortus(keguguran)
Terhentinya kehamilan sebelum janin dapat
hidup(viable). Berat janin di bawah 1000g umur kehamilan di bawah 28 minggu.
ü Partus prematurus
Persalinan dari hasilkonsepsi pada
kehamilan 28-36 minggu. Janin dapat hidup tetapi pprematur. Beratnya anatara
1000-2800g.
ü Partus prematurus a term(cukup
bulan)
Partus pada kehamilan 37-40 minggu, janin
matur, beratnya diatas 2500g.
ü Partus postmaturus(serotinus)
Persalinan yang
terjadi 2 minggu atau lebih dari yang ditaksir. Janin disebut postmatur
ü Partus presipatatus
Partus yang
berlangsung cepat, mungkin di kamar mandi atau tempat – tempat tak terduga.
ü Partus percobaan
Suatu penilaian
kemajuan persalinan untuk memperoleh bukti tentang ada atau tidaknya disproposi
sefalopelvik.
3.
Gravida
atau Para
v Gravida
adalah seorang waanita yang sedang hamil
v Primigravida
adalah seorang wanita yang hamil untul pertama kali.
v Para
adalah seorang wanita yang telah melahirkan dan anaknya dapat hidup.
v Nulipara
adalah seorang wanita yang belum pernah melahirkan bayi viable.
v Primipara
adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi dan hidup untuk pertama
kalinya.
v Multipara atau pleuripara
adalah wanita yang pernah melahirkan bayi viable beberapa kali (sampai 5 kali)
v Grandemultipara
adalah Wnita yang pernah melahirkan bayi 6 kali atau lebih hidup atau mati.
2. Sebab – sebab yang menimbulkan persalinan
Apa yang menyebabkan terjadinya persalinan belum
diketahui benar, yang hanyalah merupakan teori – teori yang kompleksantara lain
dikemukakan factor – factor humonoral, struktur rahim, sirkulasi rahim,
pengaruh tekanan pada saraf dan nutrisi.
1.
Teori penurunan hormone
1-2
minggu sebelum partusmuali mengalami penurunan hormone esterogen dan
progesterone.progesteron sebagai penenang otot – otot polos rahim dan akan
menyebabkan ketegangan pembuluh darah sehingga timbul HIS bila kprogesteron
turun.
2.
Teori
plasenta menjadi tua
Akan
menyebabkan turunnya kadar esterogen dan progesterone yang menyebabkan
kekejangan pembuluh darah, hal ini menimbulkan kontraksi rahim.
3.
Teori
distensi rahim
Rahim
yang menjadi besar dan merenggangkan menyebabkan iskemia otot – otot
rahim sehingga mengganggu sirkulasi utero-plasenter.
4.
Teori
iritasi mekanik
Dibelakang
serviks terletak ganglion servikale (fleksus frankenhauser). Bila ganglion ini
digeser dan tertekan misalnya oleh kepala janin maka akan timbul kontraksi
uterus.
5.
Induksi
partus
Patus dapat pula ditimbulkan dengan jalan:
a. Gagang laminaria
Beberapa laminaria di masukkan dalam
kanalis servikalis dengan tujuan merangsang fleksus frankenhauser.
b. Amniotomi
Pemecah ketuban
c. Oksitosin drips
Pemberian oksitosin menurut tetesan per
infus.
3. Tanda – tanda permulaan persalinan
Sebelum terjadi
persalinan sebenarnya beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki “bulannya”
atau “ minggunya”atau “ harinya” yang disebut kala pendahuluan. Kala ini member
tanda – tanda sebagai berikut:
1. Lightening/ settling/dropping
yaitu
kepala janin turun memasuki PAP terutama pada primigravida. Pada multipara
tidak begitu kentara.
2. Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri
turun
3. Perasaan
sering – sering atau susah kencing(polakisuria) karena kandung kemih tertekan
oleh bagian terbawah janin.
4. Perasaan
sakit di perut dan dipinggang oleh adanya kontraksi – kontraksi lemah dari
uterus, kadang – kadang disebut “false
labor pains”
5. Serviks
menjadi lembek, mulai mendatar, dan sekresinya bertambah bias bercampur
darah(body slow).
4.
Tanda - tanda in partu
1. Rasa
sakit oleh adanya HIS yang dating lebih kuat, sering, dan teratur.
2.
Keluar lender bercampur darah (show)
yang lebih banyak karena robekan – robekan kecil pada serviks.
3. Kadang
– kadang ketuban pecah dengan sendirinya.
4. Pada
pemeriksaan dalam: serviks mendatar dan pembukaan telah ada.
5.
FAKTOR YANG
BERPERAN DALAM PERSALINAN:
1. Power
His (kontraksi ritmis otot polos uterus), kekuatan mengejan ibu, keadaan kardiovaskular respirasi
metabolik ibu.
2. Passage
Keadaan
jalan lahir
3.
Passanger
Keadaan
janin (letak, presentasi, ukuran/berat janin, ada/tidak kelainan anatomik
mayor) (++ faktor-faktor "P" lainnya : psychology, physician,
position).
Menurut
Wiknyosastro, dkk (1999 : 186), 3 (tiga) faktor penting yang memegang peranan pada persalinan, ialah : 1) kekuatan-kekuatan
yang ada pada ibu seperti kekuatan his dan kekuatan mengedan, 2) keadaan jalan
lahir, 3) janinnya sendiri.
Dengan adanya keseimbangan
kesesuaian antara faktor-faktor tersebut, persalinan normal diharapkan dapat
berlangsung.
6. Perubahan
Fisiologis
a.
Perubahan
fisiologis pada persalinan kala 1.
1. Perubahan tekanan darah
Tekanan
darah meningkat selama kontraksi uterus dengan kenaikan sistolik rata-rata
10-20 mmHg dan menaikan dastolik rata-rata 5-10mmHg. Diantara
kontraksi-kontraksi uterus, tekanan darah akan turun seperti sebelum masuk
persalinan dan akan naik lagi bila terjadi kontraksi. Arti penting dan kejadian ini adalah untuk memastikan tekanan darah
yang sesungguhnya, sehingga diperlukan pengukuran diantara kontraksi. Jika
seorang ibu dalam keadaan sangat takut/khawatir yang menyebabkan kenaikan tekan
darah. Dalam hal ini perlu dilakukan pemeriksaan lainnya untuk mengesampingkan
pre aklamsia, oleh karena itu diperlukan asuhan yang mendukung yang dapat menimbulkan ibu
rileks/santai.
Posisi
tidur terlentang selama bersalin akan menyebabkan penekanan uterus terhadap
pembuluh darah besar (aorta) yang akan menyebabkan sikulasi darah baik untuk ibu
maupun janin akan terganggu, ibu dapat terjadi hipetensi dan janin dapat
asfiksia. Oleh karena itu posisi tidur ibu selama persalinan yang terbaik
adalah menghindari posisi tidur terlentang.
Untuk memastikan
tekanan darah yang sesungguhnya maka diperlukan pengukuran tekanan darah diluar
kontraksi.
2.
Perubahan
metabolisme.
Selama
persalinan baik metabilisme karbohidrat aerobik maupun anaerobik akan naik
secara perlahan. Kenaikan ini sebain besar disebabkan karena oleh kecemasan
serta kegiatan otot kerang tubuh. Kegiatan metabolisme yang meningkat tercermin
dengan kenaikan suku badan, denyut nadi, pernafasan, kardiak output dan
kehilangan cairan.
3.
Perubahan
suhu badan.
Suhu
badan akan sedikit meningkat selama persalinan, suhu mencapai tertinggi selama
persalinan dan segera setelah kelahiran. Kenaikan ini dianggap normal asal
tidak melebihi 0,5-10C. Ssuhu badan yang naik sedikit merupakan
keadaan yang wajar, namun bila keadaan ini berlangsung lama, kenaikan suhu ini
mengindikasikan ada\nya dehidrasi. Parameter lainnya harus dilakukan antara
lain selaaput ketuban sudah pecah atau belum, karena hal ini bisa merupakan
tanda infeksi.
4.
Denyut jantung
Perubahan
yang menyolok selama kontraksi dengan kenaikan denyut jantung, penurunan selama
acme sampati satu angka yang lebih rendah dan angka antara kontraaksi. Penuruan
yang menyolok selama acme kontraksi uterus tidak terjadi jika ibu berada dalam
posisi miring bukan posisi terlentang. Denyut
jantung diantara kontraksi sedikit lebih tinggi dibanding selama periode
persalinan atau sebelum masuk
persalinan. Hal ini mecerminkan kenaikan dalam metabolisme yang terjadi
selamapersalinan. Denyut janatung yang sedikit naik merupakan keadaan yang
normal, meskipun normal perlu dikontrol secara periode untuk mengidentifikasi
adanya infeksi.
5.
Pernafasan
Pernafasan
terjadi kenaikan sedikit dibanding dengan sebelum persalinan, kenaikan
pernafasan ini dapat disebabkan karena adanya rasa nyeri, kekhawatiran serta
penggunaan teknik pernafasan yang tidak benar. Untuk itu diperlukan tindakan
untuk mengendalikaan pernafasan (untuk menghindari hiperventilasi) yang
ditandai oleh adanya perasaan pusing.
6.
Perubahan
renal
Polyuri seri
terjadi selama persalinan, hal ini disebabkah oleh kardiak output yang
meningkat, serta disebabkan karena filtrasi glomelurus serta aliran plasma ke
renal. Polyru tidak begitu kelihatan dalam posisi terlentang, yang mempunyai
efek harus sering dikontrol (setiap 2 jam) yang bertujuan agar tidak menghambat
penurunan bagian terendah janin dan trauma pada akandung kemih serta
menghindari retensi urine setelah melahirkan. Protein dalam urine (+1) selama
persalinan yang tidak wajar, keadaan ini lebih sering pada ibu primipara
anemia, persalinan lama atau pada kasus pre aklamsia.
7.
Perubahan
gastrointestinal
Kemampuan
pergerakan gastrik serta penyerapan makanan padat berkurang akan menyebabkan
pencernaan hampir berhendi selama persalinan dan menyebabkan konstipasi.
Lambung yang penuh dapat menimbulkan ketidaknyamanan, oleh karena itu ibu
dianjurkan tidak makan terlalu banyak atau minum semaunya untuk mempertahankan
energi dan hidrasi.
8.
Perubahan
hematologis
Haemoglobon akan
meningkat 1,2 gr/100ml selama perlinan dan kembali ketingkat pra persalinan
pada pertama setelah persalinan apabila tidak terjadi kehilangan darah selama persalinan, waktu koagulasi
berkurang dan akan mendapat tanbahan plasma selama persalinan. Jumlah sel-sel
darah putik meningkat secara progenssif selama kala satu persalinan sebesar
5000 s/d 15.000 WBC samapai dengan akhir pembukaaan lengkap, hal ini tidak
berindikasi adanya infeksi. Setelah itu turun lagi kembali keadaan semula. Gula
darah akan turun selama persalinan dan akan turun secara menyoloik pada
persalinan yang mengalami penyulit atau persalinan lama, hal ini disebabkan
karena kegiatan uterus dan otot-otot kerangka tubuh. Penggunaan uji
laboratorium untuk penapisan ibu yang menderita diabetes militus akan
memberikan hasil yang tidak tepat dan tidak dapat diandalkan.
9.
Kontraksi
uterus
Kontraksi uterus
terjadi karena adanya rangsangan pada otot polos uterus dan penurunan hormon
progesteron yang menyebabkan keluarnya hormon oksitosin. Kontraksi uterus
dimulai dari fundus uteri menjalar kebawah, gundus uteri bekerja kuat dan lama
untuk mendorong janain kebawah, sedangkan uterus bagian bawah pasif hanya mengikuti tarikan
dan segmen atas rahim, akhirnya menyebabkan seviks menjadi lembek dan membuka.
Kerjasama antara uterus bagian atas dan uterus bagian bawah disebut polaritas.
10.
Pembentukan
segmen atas rahim dan segmen bawah rahim
Segmen Atas
Rahim (SAR) terbentuk pada uterus bagian atas dengan sifat otot yang lebih
tebal dan kontraktif. Pada bagian ini terdapat banyak otot serong dan
memanjang. SAR terbentuk dari fundus sampai ishmus uteri.
Segmen Bawah
Rahim (SBR) terbentang diuterus bagian bawah antara ishmus dengan serviks,
dengan sifat otot yang tipis dan elastis, pada bagian ini banyak terdapat otot
yang melingkar dan memanjang.
11.
Perkembangan
retraksi ring
Retraksi ring
adalah batas pinggiran antara SAR dan SBR, dalam keadaan persalinan normaaaaal
tidak nampak dan akan kelihatan pada persalinan abnormal, karena kontaksi uterus yang berlebihan, retraksi ring akan
tampak sebagai garis atau batas yang
menonjol diatas simpisis yang merupakan tanda dan ancaman ruptur uterus.
12.
Penarikan
serviks
Pada akhir
kehamilan otot yang mengelilingi Ostium Uteri Internum (OUI) ditarik oleh
SAR yang menyebabkan serviks menjadi
pendek dan menjadi bagian dari SBR. Bentuk serviks menghilang karena canalis
sevikalis membesar dan atas dan membentuk Ostium Uteri Eksterna (OUE) sebagai
ujung dan bentuknya menjadi sempit.
13.
Pembentukan
ostium uteri interna dan ostium uteri externa.
Pembukaan
serviks disebabkan oleh karena membesarnya OUE
karena otot yang melingkar disekitar ostium meregang untuk dapat
dilewati kepala. Pembukaan uteri tidak saja karena penarikan SAR akan tetapi
juga karena tekanan isi uterus yaitu kepada dan kantuong amnoin. Pada
primigravida dimulai dari ostium uteri internum terbuka lebih dahulu baru
ostium idsterna membuka pada saat persalinan terjadi. Sedangkan pada
multigravida ostium uter5i internum dan iksternum membuka secara bersama-sama
pada saat persalinan terjadi.
14.
Show
Show adalah
pengeluaran dari vagina yang terdiri dan sedikit lendir yang bercampur darah,
lendir ini berasal dan ikstruksi lendir yang menyumbat canalis servikkalis
senpanjang kehamilan sedangkan darah bersal dan desidua vera yang lepas.
15.
Tonjolan
kantong ketuban
Tonjolan kantong
ketuban ini disebabkan oleh adanya regangan SBR yang menyebabkan terlepasnya
selaput korion yang menempel pada uterus, dengan adanya tekanan maka akan
terlihat kantong yang berisi cairan yang menonjol ke ostium uteri internum yang
terbuka. Cairan ini terbagi dua yaitu fore
water dan hind water yang
berfungsi untuk melindungi selapuat amnion agar tidak terlepas seluruhnya. Tekanan yang diarahakan
ke cairan sama dengan tekanan ke uterus sehingga akan timbul genetasi floud presur. Bila selaput ketuban pecah
maka cairan tersebut akan keluar, sehingga plasenta akan ertekan dan
menyebabkan fungsi plasenta terganggu. Hal ini akan menyebabkan fetus
kekurangan oksigen.
16.
Pemecahan
kantong ketuban
Pada akhir kala
satu bila pembukaan sudah lengkap dan tidak ada tahanan lagi, ditambah dengan
kontraksi yang kuat serta desakan janin yang menyebabkan kantong ketuban pecah,
diikuti dengan proses kelahiran bayi.
B
. Perubahan Fisiologis Kala II
1.
Kontraksi,
dorongan otot-otot dinding
Kontraksi uterus
pada persalinan mempunyai sifat tersendiri. Kontraksi menimbulkan nyeri,
merupakan satu-satunya kontraksi normal muskulus. Kontraksi ini dikendalikan
oleh syaraf intrinsik, tidak disadari, tidak dapat diatur oleh ibu bersalin,
baik frekuensi maupun lama kontraksi.
Sifat khas:
a.
Rasa sakit dari fundus merata ke seluruh
uterus sampai berlanjut ke punggung bawah.
b.
Penyebab rasa nyeri belum diketahui
secar pasti. Beberapa dugaan penyebab antara lain :
1)
Pada saat kontraksi terjadi kekurangan
oksigen pada miometrium.
2)
Penekanan ganglion syaraf di serviks dan
uterus bagian bawah.
3)
Peregangan servik akibat dari pelebaran
serviks.
4)
Peregangan peritoneum sebagai organ yang
menyelimuti uterus.
Pada waktu selang kontraksi/periode
relaksasi diantara kontraksi memberikan dampak berfungsinya sistem-sistem dalam
tubuh, yaitu :
a.
Memberikan kesempatan pada jaringan
otot-otot uterine untuk beristirahat agar tidak menurunkan fungsinya oleh
karena kontraksi yang kuat secara terus menerus.
b.
Memberikan kesempatan pada ibu untuk
istirahat, karena rasa sakit karena kontraksi.
c.
Menjaga kesehatan janin karena pada saat
kontraksi uterus mengakibatkan konstriksi pembuluh darah placenta sehingga bila
secara terus menerus berkontraksi, maka akan menyebabkan hipoksia, anoksia dan
kematian janin.
Pada awal persalinan kontraksi uterus terjadi selama
15-20 detik. Pada saat memasuki fase aktif, kontraksi terjadi selama 45-90
detik rata-rata 60 detik. Dalam satu kali kontraksi terjadi 3 fase, yaitu fase
naik, puncak dan turun. Pada saat fase naik lamanya 2 kali fase lainnya.
Pemeriksaan kontraksi uterus meliputi, frekuensi, durasi/lama, intensitas/kuat
lemah. Frekuensi dihitung dari awal timbulnya kontraksi sampai muncul kontraksi
berikutnya. Pada saat memeriksa durasi/lama kontraksi, perlu diperhatikan bahwa
cara pemeriksaan kontraksi uterus dilakukan dengan palpasi pada perut. Karena
bila berpedoman pada rasa sakit yang dirasakan ibu bersalin saja kurang akurat. Pada saat awal kontraksi
biasanya ibu bersalin belum merasakan sakit, begitu juga pada saat kontraksi
sudah berakhir, ibu bersalin masih merasakan sakit. Begitu juga dalam
menentukan intensitas kontraksi uterus/kekuatan kontraksi uterus, hasil
pemeriksaan yang disimpulkan tidak dapat diambil dari sberapa reaksi nyeri ibu
bersalin pada saat kontraksi sudah berakhir, ibu bersalin masih merasakan
sakit. Begitu juga dalam menentukan intensitas kontraksi uterus/kekuatan
kontraksi uterus, hasil pemeriksaan yang disimpulkan tidak dapat diambil dari
seberapa reaksi nyeri ibu bersalin pada saat kontraksi. Ambang rasa nyeri tiap
individu berbeda. Pada ibu bersalin yang belum siap menghadapi persalinan,
kurang matang psikologis, tidak mengerti proses persalinan yang ia hadapi akan
bereaksi serius dengan berteriak keras saat kontraksi walaupun kontraksinya lemah.
Sebaliknya ibu bersalin yang sudah siap menghadapi persalinan, matang
psikologis, mengerti tentang proses persalinan, mempunyai ketabahan, kesabaran
yang kuat, pernah melahirkan, didampingi keluarga dan didukung oleh penolong
persalinan yang profesional, dapat menggunakan tehnik pernafasan untuk
relaksasi, maka selama kontraksi yang kuat tidak akan berteriak. Intensitas
dapat diperiksa dengan cara jari-jari tangan ditekan pada perut, bisa atau
tidak uterus ditekan. Pada kontraksi yang lemah akan mudah dilakukan, tetapi
pada kontraksi yang kuat, hal itu tidak mudah dilakukan. Bila dipantau dengan
monitor janin, kontraksi uterus yang paling kuat pada fase kontraksi puncak
tidak akan melebihi 40 mmHg.
Selanjutnya, kesimpulan pemeriksaan kontraksi uterus tidak
hanya meliputi, frekuensi, durasi/lama, intensitas/kuat lemah tetapi perlu
diperhatikan juga pengaruh dari ketiga hal tersebut mulai dari kontraksi yang
belum teratur hingga akhir persalinan. Misalnya pada awal persalinan, kontraksi
uterus setiap 20-30 menit selama 20-25 detik, intensitas ringan lama-kelamaan
menjadi 2-3 menit, lama 60-90 detik, kuat, maka hal ini akan menghasilkan
pengeluaran janin. Bila ibu bersali mulai berkontraksi selama 5 menit selama
50-60 detik dengan intensitas cukup kuat maka dapat terjadi kontraksi tidak
dapat teratur, frekuensi lebih sering, durasi lebih lama. Terkadang dapat
terjadi disfungsi uterin, yaitu kemajuan proses persalinan yang meliputi
dilatasi servik/pelebaran serviks, mekanisme penurunan kepala memakan waktu yang
lama, tidak sesuai dengan harapan.
Kontraksi uterus bervariasi pada setiap bagian karena
mempunyai pola gradien. Kontraksi yang kuat mulai dari fundus hingga
berangsur-angsur berkurang dan tidak ada samasekali kontraksi pada serviks. Hal
ini memberikan efek pada uterus sehingga uterus terbagi menjadi 2 zona, yaitu
zona atas dan zona bawah uterus. Zona atas merupakan zona yang berfungsi
mengeluarkan janin karena merupakan zona yang berkontraksi dan menebal, dan
sifatnya aktif. Zona ini terbentuk akibat mekanisme kontraksi otot. Pada saat
relaksasi panjang otot tidak bisa kembali ke ukuran semula, ukuran panjang otot
selama masa relaksasi semakin memendek, dan setiap terjadi relaksasi ukuran
panjang otot semakin memendek dan demikian seterusnya setiap kali terjadi
relaksasi sehingga zona atas semakin menebal dan mencapai batas tertentu pada
saat zona bawah semakin tipis dan luas.
Sedangkan zona bawah terdiri dari istmus dan servik
uteri. Pada saat persalinan istmus uteri disebut sebagai segmen bawah rahim. Zona
ini sifatnya pasif tidak berkontraksi seprti zona atas. Zona bawah menjadi
tipis dan terbuka akibat dari sifat pasif dan pengaruh dari kontraksi pada zona
atas sehingga janin dapat melewatinya. Jika zona bawah ikut berkontraksi
seperti zona atas maka tidak terjadi dilatasi/pembukaan servik, hal ini dapat
mempersulit proses persalinan.
2.
Uterus
Terjadi
perbedaan pada bagian uterus:
a.
Segmen atas : bagian yang berkontraksi,
bila dilakukan palpasi akan teraba keras saat kontraksi.
b.
Segmen bawah : terjadi atas uterus dan
serviks, merupakan daerah yang teregang, bersifat pasif. Hal ini mengakibatkan
pemendekan segmen bawah uterus.
c.
Batas antara segmen atas dan segmen
bawah uterus membentuk lingkaran cincin retraksi fisiologis. Pada keadaan
kontraksi uterus inkoordinasi akan membentuk cicin retraksi patologis yang
dinamakan cincin bandl.
Perubahan bentuk :
Bentuk uterus menjadi oval yang disebabkan adanya
pergerakan tubuh janin yang semula membungkuk menjadi tegap, sehingga uterus
mnjadi bertambah panjang 5-10cm.
3.
Perubahan ligamentum rotundum
Pada saat
kontraksi uterus ligamentum rotundum yang mengandung otot-otot polos ikut
berkontraksi sehingga ligamentum rotundum menjadi pendek.
Faal ligamentum
rotundum dalam persalinan :
a.
Fundus uteri pada saat kehamilan
bersandar pada tulang belakang, ketika persalinan berlangsung berpindah ke
depan mendesak kedinding perut bagian depan ke depan pada setiap kontraksi.
Perubahan ini menjadikan sumbu rahim searah dengan sumbu jalan lahir.
b.
Fundus uteri terlambat terjadi karena adanya
kontraksi ligamentum rotundum pada saat kontraksi uterus, hal ini menyebabkan
fundus tidak dapat naik ke atas. Bila pada waktu kontraksi fundus naik ke atas
maka kontraksi itu tidak dapat mendorong anak ke bawah.
4.
Effasment
dan dilatasi serviks
Pengaruh
tidak langsung dari kontraksi uterus adalah terjadinya affasment dan dilatasi
serviks. Effasment merupakan pemendekan/pendataran ukuran dari panjang kanalis
servikalis. Ukuran normal kanalis servikalis 2-3 cm. Ketika terjadi effasment
ukuran panjang kanalis servikalis menjadi semakin pendek dan akhirnya sampai
hilang. Pada pemeriksaan dalam teraba lubang dengan pinggir yang tipis. Proses
effasmentini diperlancar dengan adanya pengaturan seperti pada celah endoservik
yang mempunyai efek membuka dan meregang. Pemeriksaan kemajuan persalinan untuk
menilai proses effasment ini dengan presentase 0% berarti belum terjadi
effasment 100% berarti sudah terjadi total effasment.
Dilatasi
adalah pembesaran ukuran ostium uteri interna (OUI) yang kemudian disusul dengan
pembesaran ukuran ostium uteri eksterna (OUE). Pembesaran ini berbeda antara
primigravida dan multi gravida. Ostium uteri interna sudah sedikit membuka pada
multigravida. Proses dilatasi ini dibantu/dipermudah oleh tekanan hidrostatik
cairan amnion. Tekanan hidrostatik cairan amnion terjadi akibat dari kontraksi
uterus.
Kemajuan
persalinan pada dilatasi/pembukaan serviks dengan cara mengukur diameter
serviks dalam centimeter 0-10 pada bagian ostium uteri eksterna. Ukuran nol (0)
centimeter bila ostium serviks eksterna tertutup, diameter 10 cm bila dilatasi
ostium serviks eksterna sudah lengkap.
Pada
saat proses persalinan effasment awal dan dilatasi tidak sama antara
primigravida dan multigravida. Pada primigravida terjadi effasment 50%-60% pada
pembukaan 1cm sebelum persalinan sebagai akibat dari kontraksi Braxton-Hicks.
Hal ini merupakan proses kematangan serviks sebagai tanda premonitori
persalinan. Kemajuan perubahan serviks selama persalinan pada umumnya terjadi
secara berurutan, kemudianterjadi kombinasi effasment dan dilatasi secara
bersamaan setelah effasment 50%-100%. Tanda persalinan aktiv dengan adanya
serviks menjadi keras. Pada multigravida memasuki persalinan biasanya terjadi
dilatasi serviks 1-2cm atau lebih tergantung pada paritas, biasanya tidak
terjadi atau sedikit terjadi effasment. Effasment dan dilatasi merupakan salah
satu indikator seorang ibu masuk persalinan awal atau masih dalam tanda-tanda
persalinan palsu.
Station
Station adalah
salah satu indikator untuk menilai kemajuan persalinan yaitu dengan cara
menilai keadaan hubungan antara bagian paling bawah presentasi terhadap garis
imajinasi/bayangan setinggi spina iskiadika. Penilaian station dengan ukuran
cm. Station 0 berarti bagian bawah presentasi setinggi spina iskhiadika. Hasil +1,
+2, +3, +4, dan +5 berarti presentasi berada dibawah spina iskhiadika setinggi
1, 2, 3, 4, dan 5 cm di atas garis imajinasi spina iskhiadika. Hasil -1, -2,
-3, -4, dan -5 berarti presentasi berada di atas 1, 2, 3, 4, dan 5 cm di bawah
garis imajinasi spina iskhiadika. Perlu berhati-hati dalam menentukan hasil
pemeriksaan station karena hasil pemeriksaan dapat keliru bila terdapat molding
atau tulang tengkorak janin saling menumpuk atau terjadi kaput suksedanium.
Untuk persiapan
memberikan asuhan kebidanan, perlu diperhatikan riwayat, keadaan fisik dan
pelvis atau panggul, umur ibu, riwayat obstetri, intensitas kontraksi ketika
berbaring dibanding ketika berjalan, lokasi nyeri selama kontraksi, lama
persalinan sebelumnya, jarak kehamilan, waktu kontraksi, frekuensi, ukuran
terbesar dan terkecil janin sebelumnya, umur kehamilan.
Perubahan vagina
dan besar panggul bagian atas vagina sejak kehamilan mengalami
perubahan-perubahan, dan pada kala I ketuban ikut meregangkan sehingga dapat
dilalui oleh janin. Pada saat ketuban pecah perubahan-perubahan pada vagina dan
dasar panggul menjadi teregang sehingga membentuk saluran dengan
dinding-dinding yang tipis. Hal ini terutama diakibatkan bagian depan anak.
Pada saat kepala sampai pada vulva, lubang vulva membuka keatas. Apabila
diperiksa dari luar terjadi peregangan pada bagian depan yaitu daerah perineum
menjadi menonjol dan tipis, anus menjadi terbuka. Pada vagina dan dasar panggul
terjadi regangan yang kuat, dimungkinkan karena bertambahnya pembuluh darah.
Apabila jaringan ini robek maka menimbulkan perdarahan yang banyak.
c.
Fisiologi
Kala III
Kala III dimulai
sejak bayi lahir sampai lahirnya placenta/uri. Rata-rata lama kala III berkisar
15-30 menit, baik pada primipara maupun multipara. Tempat implantasi placenta
sering pada dinding depan dan belakang korpus uteri atau dinding lateral.
Sangat jarang terdapat pada fundus uteri. Bila terletak pada segmen bawah
rahim/SBR, keadaan ini disebut placenta previa.
Fase-fase
kala III
1.
Pelepasan
Placenta
Setelah bayi
lahir, terjadi kontraksi uterus. Hal ini mengakibatkan volume rongga uterus
berkurang. Dinding uterus menebal. Pada tempat implantasi placenta juga terjadi
penurunan luas area. Ukuran placenta tidak berubah, sehingga menyebabkan
placenta terlipat, menebal dan akhirnya terlepas dari dinding uterus. Placenta
terlepas sedikit demi sedikit. Terjadi pengumpulan perdarahan di antara ruang
placenta dan desidua basalis yang disebut retroplacenter hematom. Setelah
placenta terlepas, placenta akan menempati segmen bawah uterus atau vagina.
Macam
pelepasan placenta
1.
Mekanisme
schultz : pelepasan placenta yang dimulai dari
sentral/bagian tengah sehingga terjadi bekuan retroplacenta. Cara pelepasan ini
sering terjadi. Tanda pelepasan dari tengah ini mengakibatkan perdarahan tidak
terjadi sebelum placenta lahir. Perdarahan banyak terjadi segera setelah
placenta lahir.
2.
Mekanisme
duncan : terjadi pelepasan placenta dari pinggir atau
bersamaan dari pinggir dan tengah placenta. Hal ini mengakibatkan terjadi
semburan darah sebelum placenta lahir.
Tanda-tanda
pelepasan placenta
1.
Perubahan bentuk uterus. Bentuk uterus
yang semula discoid menjadi globuler akibat dari kontraksi uterus.
2.
Semburan darah tiba-tiba.
3.
Tali pusat memanjang.
4.
Perubahan posisi uterus. Setelah
placenta lepas dan menempati segmen bawah rahim, maka uterus muncul pada rongga
abdomen.
Pengeluaran
placenta
Placenta yang
sudah lepas dan menempati segmen bawah rahim, kemudian melalui cerviks, vagina
dan dikeluarkan ke intruitus vagina.
Pemeriksaan
pelepasan placenta dengan cara Kustner :
tali pusat diregangkan dengan tangan kanan, tangan kiri menekan atas sympisis.
Penilaian :
a. Tali
pusat masuk berarti belum lepas.
b. Tali
pusat bertambah panjang atau tidak masuk berarti lepas.
2.Pengawasan
perdarahan
1.
Selama hamil aliran darah ke uterus
500-800 ml/mnt.
2.
Uterus tidak kontraksi dapat menyebabkan
kehilangan darah sebanyak 350-500 ml.
3.
Kontraksi uterus akan menekan pembuluh
darah uterus diantara anyaman miometrium.
Fisiologi
Kala IV
Persalinan
kala IV dimulai sejak placenta lahir sampai dengan 2 jam sesudahnya, adapun
hal-hal yang perlu diperhatikan adalah kontraksi uterus sampai uterus kembali
ke bentuk normal. Hal itu dapat dilakukan dengan melakukan rangsangan taktil (mamase) untuk
merangsang uterus berkontraksi baik dan kuat. Perlu juga dipastikan bahwa
placenta telah lahir lengkap dan tidak
ada yang tersisa sedikitpun dalamuterus dan benar- benar dijamin tidk terjadi
pendarahan.
Evaluasi
uterus : konsistensi, atonia
Perlu
diperhatikan bahwa kontraksi uterus mutlak diperlukan untuk mencegah terjadinya
perdarahan dan pengembalian uterus ke bentuk normal. Kontraksi uterus yang
tidak kuat dan terus menerus dapat menyebabkan terjadinya atonia uteri yang
dapat mengganggu keselamatan ibu. Untuk itu evaluasi terhadap uterus pasca
pengeluaran placenta sangat penting untuk diperhatikan. Untuk membantu uterus
berkontraksi dapat dilakukan dengan mamase agar uterus tidak lembek dan mampu
berkontraksi dengan kuat. Kalau dengan usaha ii uterus tidak mau berkontraksi
dengan baik dapat diberikan obat oksitosin dan harus diawasi sekurang-kurangnya
selama 1 jam sambil mengamati terjadinya perdarahan pospartum.
7.
Mekanisme
persalinan
Pembagian Fase/Kala Persalinan
Pembagian fase/kala persalinan menurut WIknyosastro, dkk
(1999 : 181) sebagai berikut:
1. Kala 1 Pematangan
dan pembukaan serviks sampai lengkap (kala pembukaan)
2. Kala 2 Pengeluaran
bayi (kala pengeluaran)
3. Kala 3 Pengeluaran
plasenta (kala uri)
4. Kala 4 Masa
1 jam setelah partus, terutama untuk observasi
Periode tahap-tahap persalinan normal menurut
Kampono dan M. Moegni (1999) sebagai berikut :
Tabel
2.1.
Periode
Tahap-tahap Persalinan Normal
|
Tahap
Persalinan
|
Nullipara
|
Multipara
|
|
Kala 1 – fase laten
Fase
aktif
Pembukaan serviks
Kala 2
Kala 3
|
Kurang dari 20 jam
5 – 8 jam
Rata-rata 1,2 cm/jam
Kurang dari 2 jam
Kurang dari 30 menit
|
Kurang dari 14 jam
2 – 5 jam
Rata-rata 1,5 cm/jam
Kurang dari 1 jam
Kurang dari 30 menit
|
2.3.2 HIS
His
menurut Kampono dan M. Moegni (1999) adalah gelombang kontraksi
ritmis otot polos dinding uterus yang dimulai dari daerah fundus uteri di mana
tuba falopii memasuki dinding uterus, awal gelombang tersebut didapat dari
‘pacemaker’ yang terdapat di dinding uterus daerah tersebut. WIknyosastro, dkk
(1999 : 188) menyatakan bahwa his adalah salah satu kekuatan pada ibu yang
menyebabkan serviks membuka dan mendorong janin ke bawah.
Resultante
efek gaya kontraksi tersebut dalam keadaan normal mengarah ke daerah lokus
minoris yaitu daerah kanalis servikalis (jalan lahir) yang membuka, untuk
mendorong isi uterus ke luar.
Terjadinya
his menurut Kampono dan M. Moegni
(1999) akibat :
1. Kerja hormon oksitosin
2. Regangan dinding uterus oleh isi
konsepsi 3
3. Rangsangan terhadap pleksus saraf
Frankenhauser yang tertekan massa konsepsi.
His
yang baik dan ideal menurut Kampono dan M. Moegni
(1999) meliputi:
1. Kontraksi simultan simetris di
seluruh uterus
2. Kekuatan terbesar (dominasi) di
daerah fundus
3. Terdapat periode relaksasi di antara
dua periode kontraksi.
4. Terdapat retraksi otot-otot korpus
uteri setiap sesudah his
5. Serviks uteri yang banyak mengandung
kolagen dan kurang mengandung serabut otot, akan tertarik ke atas oleh retraksi
otot-otot korpus, kemudian terbuka secara pasif dan mendatar (cervical
effacement). Ostium uteri eksternum dan internum pun akan terbuka.
Nyeri
persalinan pada waktu his menurut Kampono dan M. Moegni (1999)
dipengaruhi berbagai faktor :
1. Iskemia
dinding korpus uteri yang menjadi stimulasi serabut saraf di pleksus
hipogastrikus diteruskan ke sistem saraf pusat menjadi sensasi nyeri.
2. Peregangan
vagina, jaringan lunak dalam rongga
panggul dan peritoneum, menjadi rangsang nyeri.
3. Keadaan
mental pasien (pasien bersalin sering
ketakutan, cemas/ anxietas, atau eksitasi).
4. Prostaglandin
meningkat sebagai respons terhadap stress
Gerakan
– gerakan terutama yang terjadi pada persalinan
ada 7 gerakan , yaitu:
a.Turunnya kepala
b. Fleksi
c. Putaran paksi dalam
d. Ekstensi
e. Putaran paksi luar
f. Ekspulsi
b. Fleksi
c. Putaran paksi dalam
d. Ekstensi
e. Putaran paksi luar
f. Ekspulsi
Dalam kenyataannya beberapa gerakan terjadi secara
bersamaan.
a. Turunnya kepala
Turunnya kepala dibagi dalam :
1) masuknya kepala dalam pintu atas panggul
a. Turunnya kepala
Turunnya kepala dibagi dalam :
1) masuknya kepala dalam pintu atas panggul
Masuknya kepala ke dalam
pintu atas panggul pada primigravida sudah terjadi pada bulan terakhir
kehamilan tetapi pada multipara biasanya baru terjadi pada permulaan
persalinan. Masuknya kepala ke dalam pintu atas panggul biasanya dengan sutura
sagitalis melintang dan dengan fleksi yang ringan. Apabila sutura sagitalis
berada di tengah-tengah jalan lahir, tepat diantara symphysis dan promotorium,
maka dikatakan kepala dalam keadaan synclitismus.
Pada synclitismus os
parietale depan dan belakang sama tingginya. Jika sutura sagitalis agak ke
depan mendekati symphysis atau agak ke belakang mendekati promotorium, maka
dikatakan asynclitismus. Dikatakan asynclitismus posterior, ialah kalau sutura
sagitalis mendekati symphysis dan os parietale belakang lebih rendah dari os
parietale depan, dan dikatakan asynclitismus anterior ialah kalau sutura
sagitalis mendekati promotorium sehingga os parietale depan lebih rendah dari
os parietale belakang. Pada pintu atas panggul biasanya kepala dalam
asynclitismus posterior yang ringan.
2) majunya kepala
Pada primigravida majunya
kepala terjadi setelah kepala masuk ke dalam rongga panggul dan biasanya baru
mulai pada kala II. Pada multipara sebaliknya majunya kepala dan masuknya
kepala dalam rongga panggul terjadi bersamaan. Majunya kepala ini bersamaan
dengan gerakan-gerakan yang lain yaitu : fleksi, putaran paksi dalam, dan
ekstensi.
Penyebab majunya kepala antara lain :
(a) tekanan cairan intrauterine
(b) tekanan langsung oleh fundus pada bokong
(c) kekuatan mengejan
(d) melurusnya badan anak oleh perubahan bentuk
rahim.
b. Fleksi
Dengan majunya kepala
biasanya fleksi bertambah hingga ubun-ubun kecil jelas lebih rendah dari
ubun-ubun besar. Keuntungan dari bertambah fleksi ialah bahwa ukuran kepala
yang lebih kecil melalui jalan lahir: diameter suboksipito bregmatika (9,5 cm)
menggantikan diameter suboksipito frontalis (11 cm).
c. Putaran paksi dalam
Yang dimaksud dengan putaran
paksi dalam adalah pemutaran dari bagian depan sedemikian rupa sehingga bagian
terendah dari bagian depan memutar ke depan ke bawah symphisis. Pada presentasi
belakang kepala bagian yang terendah ialah daerah ubun-ubun kecil dan bagian
inilah yang akan memutar ke depan dan ke bawah symphysis.
Putaran paksi dalam mutlak
perlu untuk kelahiran kepala karena putaran paksi merupakan suatu usaha untuk
menyesuaikan posisi kepala dengan bentuk jalan lahir khususnya bentuk bidang
tengah dan pintu bawah panggul. Putaran paksi dalam bersamaan dengan majunya kepala
dan tidak terjadi sebelum kepala sampai Hodge III, kadang-kadang baru setelah
kepala sampai di dasar panggul.
Sebab-sebab terjadinya putaran paksi dalam adalah :
Sebab-sebab terjadinya putaran paksi dalam adalah :
1. Pada letak fleksi, bagian belakang kepala
merupakan bagian terendah dari kepala
2. Bagian terendah dari kepala ini mencari
tahanan yang paling sedikit terdapat sebelah depan atas dimana terdapat hiatus
genitalis antara m. levator ani kiri dan kanan.
3) ukuran terbesar dari bidang tengah panggul
ialah diameter anteroposterior.
d. Ekstensi
d. Ekstensi
Setelah putaran paksi selesai
dan kepala sampai di dasar panggul, terjadilah ekstensi atau defleksi dari
kepala. Hal ini disebabkan karena sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul
mengarah ke depan atas, sehingga kepala harus mengadakan ekstensi untuk
melaluinya.
Pada kepala bekerja dua
kekuatan, yang satu mendesak nya ke bawah dan satunya disebabkan tahanan dasar
panggul yang menolaknya ke atas.
Setelah suboksiput tertahan
pada pinggir bawah symphysis akan maju karena kekuatan tersebut di atas bagian
yang berhadapan dengan suboksiput, maka lahirlah berturut-turut pada pinggir
atas perineum ubun-ubun besar, dahi, hidung, mulut dan akhirnya dagu dengan
gerakan ekstensi. Suboksiput yang menjadi pusat pemutaran disebut hypomochlion.
e. Putaran paksi luar
Setelah kepala lahir, maka kepala anak memutar
kembali ke arah punggung anak untuk menghilangkan torsi pada leher yang terjadi
karena putaran paksi dalam. Gerakan ini disebut putaran restitusi (putaran
balasan = putaran paksi luar).
Selanjutnya putaran dilanjutkan hingga belakang kepala
berhadapan dengan tuber isciadicum sepihak. Gerakan yang terakhir ini adalah
putaran paksi luar yang sebenarnya dan disebabkan karena ukuran bahu (diameter
biacromial) menempatkan diri dalam diameter anteroposterior dari pintu bawah
panggul.
f.
Ekspulsi
Setelah putaran paksi luar bahu depan sampai di bawah
symphysis dan menjadi hypomoclion untuk kelahiran bahu belakang. Kemudian bahu
depan menyusul dan selanjutnya seluruh badan anak lahir searah dengan paksi
jalan lahir.
BAB
III
SIMPULAN
DAN SARAN
3.1. Simpulan
Berdasarkan
uraian tentang fisiologi dan mekanisme persalinan normal, maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut :
1. Pesalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin
yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan
presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik
pada ibu maupun pada janin.
2. Faktor penting yang memegang peranan
pada persalinan, ialah : 1) kekuatan-kekuatan yang ada pada ibu seperti
kekuatan his dan kekuatan mengedan, 2) keadaan jalan lahir, 3) janinnya sendiri.
3. Pembagian fase/kala persalinan sebagai berikut:
a. Kala 1 Pematangan dan pembukaan
serviks sampai lengkap (kala pembukaan)
b. Kala
2 Pengeluaran bayi (kala pengeluaran)
c. Kala
3 Pengeluaran plasenta (kala uri)
d. Kala
4 Masa 1 jam setelah partus, terutama untuk observasi
4. Hampir 96% janin berada dalam uterus dengan presentasi
presentasi kepala. Mekanisme persalinan normal : kepala masuk pintu atas panggul
(sinklitismus/asinklitismus)→flexi maximal sampai pada dasar panggul→putaran
paksi dalam→gerakan deflexi→kepala lahir→putaran paksi luar→lahir bahu
depan→lahir bahu belakang→trokhanter depan→trkhanter belakang→bayi lahir
seluruhnya.
3.2. Saran
Saran-saran
yang dapat kami sampaikan sehubungan dengan tulisan makalah ini sebagai berikut
:
1. Bidan perlu
memahami interaksi fisiologis dan faktor eksternal yang dapat mempengaruhi
persalinan pada manusia agar perawatan intrapatus dapat ditingkatkan.
2. Pengembangan
keterampilan observasi memungkinkan bidan tidak hanya dapat menginterpretasi
bagaimana seorang wanita menghadapi persalinan, tetapi juga dapat menentukan
bagaimana kemajuan persalinan dengan mengamati respon prilaku dan fisik wanita
yang sedang melahirkan. Dengan tidak mengetahui, mengabaikan atau
menyalahartikan petunjuk fisik tertentu, bidan mungkin secara tidak sengaja
memberi perawatan yang suboptimal.
3. Intervensi
pada persalinan harus memiliki dasar dan keputusan mengenai hal ini harus
disokong untuk memaksimalkan kesejahteraan ibu dan janin. Pengetahuan mengenai
efek intervensi pada fisiologi janin dan ibu merupakan hal esensial sehingga
bidan dapat menilai efektivitas dan dengan cepat mengidentifikasi kemungkina
penyimpangan yang terjadi akibat intervensi tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar