Sabtu, 30 Maret 2013

fisiologi persalinan


MAKALAH
FISIOLOGI
 dan
MEKANISME PERSALINAN NORMAL
MATA KULIAH
BIOLOGI REPRODUKSI

Disusun oleh :
1. Erischa agustina        (02)
2. Eunike Theresia O     (08)
3. Okta Rahma Yantin (11)
4. vina tristia        (21)

D3 – KEBIDANAN
SEKOLAH TINGG ILMU KESEHATAN
 Patria Husada Blitar
Jl.Sudanco Supriyadi  168
Kota Blitar


BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Keberhasilan setiap kehamilan, dan kelangsungan hidup spesies pada akhirnya, bergantung pada lahirnya bayi yang sehat dan cukup matang untuk bertahan hidup. Pada kehamilan dan persalinan, uterus harus melakukan 2 fungsi yang sangat berbeda. Uterus harus tumbuh, tetapi dalam keadaan tenang selama kehamilan agar janin dapat berkembang dan kemudian, pada saat yang tepat, melakukan aktifitas yang kuat dan terkoordinasi yang menyebabkan lahirnya bayi yang matang. Factor yang mengendalikan tradisi dari suatu keadaan ke keadaan lain masih belum dipahami dengan jelas, tetapi sangat penting untuk memahami, baik kemungkinan penyebab partus prematurus maupun bagaimana mengindusi persalinan tanpa mengakibatkan kegawatan pada janin.
Sebagian besar bayi manusia dapat melewati masa persalinan, dan lahir cukup bulan (didefinisikan antara akhir minggu ke-37 dan ke 42 kehamilan). Lima persen bayi premature merupakan 85% dari semua kematian neonatus dini yang tidak berkaitan dengan deformetas letal (lopez bernal et al, 1993). Semakin singkat usia genetasi, semakin buruk prognosis. Walaupun bayi berat lahir rendah (yi., yang lahir dengan berat kurang dari 1000 gram) sekarang mungkin dapat bertahan hidup, umumnya bayi tersebut memiliki angka morbiditas yang tinggi dan menimbulkan distress berat bagi orang tuanya, serta memerlukan biaya yang sangat besar di unit perawatan intensif neotatus. Dapat dikatakan salah satu tujuan utama obsterti adalah mengurangi persalinan premature.
Penentu awitan persalinan pada manusia masih merupakan misteri. Terdapat perbedaan mencolok antara manusia dan spesies mamalia lain dalam jalur faktor yang menuju persalinan. Masih belum jelas mengapa kejadian yang menuju ke persalinan pada manusia harus sedemikian rumit atau apakah lamanya genetasi yang bervariasi merupakan hal yang menguntungkan. Manusia memiliki angka persalinan prematur yang sangat tinggi (sekitar 5-10%) dibanding dengan spesies lain (kuran dari 1% pada domba). Secara teoritis, lama genetasi kurang penting pada ibu. Aspek krusialnya adalah bayi yang dapat bertahan hidup saat persalinan. Dengan demikian, tampak janin yang mengendalikan lama genetasi. Pada hewan jelas terbukti adanya keterlibatan janin dalam menentukan saat persalinan, tetapi sulit mendapatkan bukti serupa pada manusia.
Penatalaksanaan kebidanan wanita dalam persalinan sering bersifat intervensionis.Berdasarkan latar belakang di atas, kami tertarik untuk menyusun makalah dengan judul “FISIOLOGI DAN MEKANISME PERSALINAN NORMAL”.

2.      Rumusan Masalah
1.         Apa yang di maksud dengan persalinan ?
2.         Apa sebab terjadinya persalinan?
3.         Bagaimana tanda persalinan?
4.         Bagaimana perubahan fisilogi persalinan setiap kala?
5.         Bagaimana  mekanisme persalinan normal?
3.      Tujuan
1)   Agar  mahasiswa mampu  mengetahui tentang makna persalinan.
2)   Agar mahasiswa mampu mengetahui tentang penyebab – penyebab terjadinya persalinan
3)   Agar mahasiswa mampu mengetahui tentang perubahan – perubahan secara fisiologi setiapa kala persalian.
4)   Agar mahasiswa mengetahui mekanisme persalinan




BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Persalinan
Persalinan adalah suatu proses pengeluaraan hasil konsepsi (janin+ uri), yang dapat hidup ke dunia  luar, dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain.
Persalinan adalah  suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari  dalm uterus ke dunia luar. Persalinan dan kelahiran normal adalaha proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan(37-42 minggu).lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung selama 18 jsm , tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin.(Prawirohardjo2002)

Beberapa istilah yang hubunganya dengan partus:
1.      Menurut cara persalinan
Ø  Partus biasa
      Disebut juga partus spontan, adalah proses lahirnya bayi pada LBK dengan tenaga ibu sendiri,tanpa bantuan alat – alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang 24 jam.
Ø  Partus luar biasa
      Persalinan pervaginam dengan bantuan alat – alat atau melalui dinding perut dengan operasi caesarea.
2.      Menurut umur kehamilan
ü  Abortus(keguguran)
      Terhentinya kehamilan sebelum janin dapat hidup(viable). Berat janin di bawah 1000g umur kehamilan di bawah 28 minggu.
ü  Partus prematurus
      Persalinan dari hasilkonsepsi pada kehamilan 28-36 minggu. Janin dapat hidup tetapi pprematur. Beratnya anatara 1000-2800g.
ü  Partus prematurus a term(cukup bulan)
      Partus pada kehamilan 37-40 minggu, janin matur, beratnya diatas 2500g.
ü  Partus postmaturus(serotinus)
Persalinan yang terjadi 2 minggu atau lebih dari yang ditaksir. Janin disebut postmatur
ü  Partus presipatatus
Partus yang berlangsung cepat, mungkin di kamar mandi atau tempat – tempat tak terduga.
ü  Partus percobaan
Suatu penilaian kemajuan persalinan untuk memperoleh bukti tentang ada atau tidaknya disproposi sefalopelvik.
3.      Gravida atau Para
v  Gravida adalah seorang waanita yang sedang hamil
v  Primigravida adalah seorang wanita yang hamil untul pertama kali.
v  Para adalah seorang wanita yang telah melahirkan dan anaknya dapat hidup.
v  Nulipara adalah seorang wanita yang belum pernah melahirkan bayi viable.
v  Primipara adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi dan hidup untuk pertama kalinya.
v  Multipara atau pleuripara adalah wanita yang pernah melahirkan bayi viable beberapa kali (sampai 5 kali)
v  Grandemultipara adalah Wnita yang pernah melahirkan bayi 6 kali atau lebih hidup atau mati.
     
2. Sebab – sebab yang menimbulkan persalinan
            Apa yang menyebabkan terjadinya persalinan belum diketahui benar, yang hanyalah merupakan teori – teori yang kompleksantara lain dikemukakan factor – factor humonoral, struktur rahim, sirkulasi rahim, pengaruh tekanan pada saraf dan nutrisi.
1.       Teori penurunan hormone
1-2 minggu sebelum partusmuali mengalami penurunan hormone esterogen dan progesterone.progesteron sebagai penenang otot – otot polos rahim dan akan menyebabkan ketegangan pembuluh darah sehingga timbul HIS bila kprogesteron turun.
2.      Teori plasenta menjadi tua
Akan menyebabkan turunnya kadar esterogen dan progesterone yang menyebabkan kekejangan pembuluh darah, hal ini menimbulkan kontraksi rahim.
3.      Teori distensi rahim
Rahim yang  menjadi besar dan  merenggangkan menyebabkan iskemia otot – otot rahim sehingga mengganggu sirkulasi utero-plasenter.
4.      Teori iritasi mekanik
Dibelakang serviks terletak ganglion servikale (fleksus frankenhauser). Bila ganglion ini digeser dan tertekan misalnya oleh kepala janin maka akan timbul kontraksi uterus.
5.      Induksi partus
      Patus dapat pula ditimbulkan dengan jalan:
a.      Gagang laminaria
      Beberapa laminaria di masukkan dalam kanalis servikalis dengan tujuan merangsang fleksus frankenhauser.
b.      Amniotomi
      Pemecah ketuban
c.       Oksitosin drips
      Pemberian oksitosin menurut tetesan per infus.

3. Tanda – tanda permulaan persalinan
Sebelum terjadi persalinan sebenarnya beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki “bulannya” atau “ minggunya”atau “ harinya” yang disebut kala pendahuluan. Kala ini member tanda – tanda sebagai berikut:
1.       Lightening/ settling/dropping
yaitu kepala janin turun memasuki PAP terutama pada primigravida. Pada multipara tidak begitu kentara.
2.       Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun
3.      Perasaan sering – sering atau susah kencing(polakisuria) karena kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.
4.      Perasaan sakit di perut dan dipinggang oleh adanya kontraksi – kontraksi lemah dari uterus, kadang – kadang disebut “false labor pains
5.      Serviks menjadi lembek, mulai mendatar, dan sekresinya bertambah bias bercampur darah(body slow).

4.     Tanda - tanda in partu
1.      Rasa sakit oleh adanya HIS yang dating lebih kuat, sering, dan teratur.
2.      Keluar lender bercampur darah (show) yang lebih banyak karena robekan – robekan kecil pada serviks.
3.      Kadang – kadang ketuban pecah dengan sendirinya.
4.      Pada pemeriksaan dalam: serviks mendatar dan pembukaan telah ada.

5.     FAKTOR YANG BERPERAN DALAM PERSALINAN:
1.    Power
His (kontraksi ritmis otot polos uterus), kekuatan  mengejan ibu, keadaan kardiovaskular respirasi metabolik ibu.
2.    Passage
Keadaan jalan lahir
3.      Passanger
Keadaan janin (letak, presentasi, ukuran/berat janin, ada/tidak kelainan anatomik mayor) (++ faktor-faktor "P" lainnya : psychology, physician, position).

Menurut Wiknyosastro, dkk (1999 : 186), 3 (tiga) faktor penting yang memegang peranan  pada persalinan, ialah : 1) kekuatan-kekuatan yang ada pada ibu seperti kekuatan his dan kekuatan mengedan, 2) keadaan jalan lahir, 3) janinnya sendiri.
Dengan adanya keseimbangan kesesuaian antara faktor-faktor tersebut, persalinan normal diharapkan dapat berlangsung.

6.  Perubahan  Fisiologis
a.   Perubahan fisiologis pada persalinan kala 1.
1.       Perubahan tekanan darah
Tekanan darah meningkat selama kontraksi uterus dengan kenaikan sistolik rata-rata 10-20 mmHg dan menaikan dastolik rata-rata 5-10mmHg. Diantara kontraksi-kontraksi uterus, tekanan darah akan turun seperti sebelum masuk persalinan dan akan naik lagi bila terjadi kontraksi. Arti penting dan kejadian  ini adalah untuk memastikan tekanan darah yang sesungguhnya, sehingga diperlukan pengukuran diantara kontraksi. Jika seorang ibu dalam keadaan sangat takut/khawatir yang menyebabkan kenaikan tekan darah. Dalam hal ini perlu dilakukan pemeriksaan lainnya untuk mengesampingkan pre aklamsia, oleh karena itu diperlukan asuhan yang  mendukung yang dapat menimbulkan ibu rileks/santai.
Posisi tidur terlentang selama bersalin akan menyebabkan penekanan uterus terhadap pembuluh darah besar (aorta) yang akan menyebabkan sikulasi darah baik untuk ibu maupun janin akan terganggu, ibu dapat terjadi hipetensi dan janin dapat asfiksia. Oleh karena itu posisi tidur ibu selama persalinan yang terbaik adalah menghindari posisi tidur terlentang.
Untuk memastikan tekanan darah yang sesungguhnya maka diperlukan pengukuran tekanan darah diluar kontraksi.
2.      Perubahan metabolisme.
Selama persalinan baik metabilisme karbohidrat aerobik maupun anaerobik akan naik secara perlahan. Kenaikan ini sebain besar disebabkan karena oleh kecemasan serta kegiatan otot kerang tubuh. Kegiatan metabolisme yang meningkat tercermin dengan kenaikan suku badan, denyut nadi, pernafasan, kardiak output dan kehilangan cairan.
3.   Perubahan suhu badan.
Suhu badan akan sedikit meningkat selama persalinan, suhu mencapai tertinggi selama persalinan dan segera setelah kelahiran. Kenaikan ini dianggap normal asal tidak melebihi 0,5-10C. Ssuhu badan yang naik sedikit merupakan keadaan yang wajar, namun bila keadaan ini berlangsung lama, kenaikan suhu ini mengindikasikan ada\nya dehidrasi. Parameter lainnya harus dilakukan antara lain selaaput ketuban sudah pecah atau belum, karena hal ini bisa merupakan tanda infeksi.
4.    Denyut jantung
Perubahan yang menyolok selama kontraksi dengan kenaikan denyut jantung, penurunan selama acme sampati satu angka yang lebih rendah dan angka antara kontraaksi. Penuruan yang menyolok selama acme kontraksi uterus tidak terjadi jika ibu berada dalam posisi miring bukan posisi terlentang. Denyut  jantung diantara kontraksi sedikit lebih tinggi dibanding selama periode persalinan atau sebelum  masuk persalinan. Hal ini mecerminkan kenaikan dalam metabolisme yang terjadi selamapersalinan. Denyut janatung yang sedikit naik merupakan keadaan yang normal, meskipun normal perlu dikontrol secara periode untuk mengidentifikasi adanya infeksi.
5.                  Pernafasan
Pernafasan terjadi kenaikan sedikit dibanding dengan sebelum persalinan, kenaikan pernafasan ini dapat disebabkan karena adanya rasa nyeri, kekhawatiran serta penggunaan teknik pernafasan yang tidak benar. Untuk itu diperlukan tindakan untuk mengendalikaan pernafasan (untuk menghindari hiperventilasi) yang ditandai oleh adanya perasaan pusing.
6.                  Perubahan renal
Polyuri seri terjadi selama persalinan, hal ini disebabkah oleh kardiak output yang meningkat, serta disebabkan karena filtrasi glomelurus serta aliran plasma ke renal. Polyru tidak begitu kelihatan dalam posisi terlentang, yang mempunyai efek harus sering dikontrol (setiap 2 jam) yang bertujuan agar tidak menghambat penurunan bagian terendah janin dan trauma pada akandung kemih serta menghindari retensi urine setelah melahirkan. Protein dalam urine (+1) selama persalinan yang tidak wajar, keadaan ini lebih sering pada ibu primipara anemia, persalinan lama atau pada kasus pre aklamsia.
7.                  Perubahan gastrointestinal
Kemampuan pergerakan gastrik serta penyerapan makanan padat berkurang akan menyebabkan pencernaan hampir berhendi selama persalinan dan menyebabkan konstipasi. Lambung yang penuh dapat menimbulkan ketidaknyamanan, oleh karena itu ibu dianjurkan tidak makan terlalu banyak atau minum semaunya untuk mempertahankan energi dan hidrasi.
8.                  Perubahan hematologis
Haemoglobon akan meningkat 1,2 gr/100ml selama perlinan dan kembali ketingkat pra persalinan pada pertama setelah persalinan apabila tidak terjadi kehilangan  darah selama persalinan, waktu koagulasi berkurang dan akan mendapat tanbahan plasma selama persalinan. Jumlah sel-sel darah putik meningkat secara progenssif selama kala satu persalinan sebesar 5000 s/d 15.000 WBC samapai dengan akhir pembukaaan lengkap, hal ini tidak berindikasi adanya infeksi. Setelah itu turun lagi kembali keadaan semula. Gula darah akan turun selama persalinan dan akan turun secara menyoloik pada persalinan yang mengalami penyulit atau persalinan lama, hal ini disebabkan karena kegiatan uterus dan otot-otot kerangka tubuh. Penggunaan uji laboratorium untuk penapisan ibu yang menderita diabetes militus akan memberikan hasil yang tidak tepat dan tidak dapat diandalkan.
9.                  Kontraksi uterus
Kontraksi uterus terjadi karena adanya rangsangan pada otot polos uterus dan penurunan hormon progesteron yang menyebabkan keluarnya hormon oksitosin. Kontraksi uterus dimulai dari fundus uteri menjalar kebawah, gundus uteri bekerja kuat dan lama untuk mendorong janain kebawah, sedangkan uterus  bagian bawah pasif hanya mengikuti tarikan dan segmen atas rahim, akhirnya menyebabkan seviks menjadi lembek dan membuka. Kerjasama antara uterus bagian atas dan uterus bagian bawah disebut polaritas.
10.              Pembentukan segmen atas rahim dan segmen bawah rahim
Segmen Atas Rahim (SAR) terbentuk pada uterus bagian atas dengan sifat otot yang lebih tebal dan kontraktif. Pada bagian ini terdapat banyak otot serong dan memanjang. SAR terbentuk dari fundus sampai ishmus uteri.
Segmen Bawah Rahim (SBR) terbentang diuterus bagian bawah antara ishmus dengan serviks, dengan sifat otot yang tipis dan elastis, pada bagian ini banyak terdapat otot yang melingkar dan memanjang.
11.              Perkembangan retraksi ring
Retraksi ring adalah batas pinggiran antara SAR dan SBR, dalam keadaan persalinan normaaaaal tidak nampak dan akan kelihatan pada persalinan abnormal, karena kontaksi  uterus yang berlebihan, retraksi ring akan tampak sebagai garis  atau batas yang menonjol diatas simpisis yang merupakan tanda dan ancaman ruptur uterus.
12.              Penarikan serviks
Pada akhir kehamilan otot yang mengelilingi Ostium Uteri Internum (OUI) ditarik oleh SAR  yang menyebabkan serviks menjadi pendek dan menjadi bagian dari SBR.  Bentuk serviks menghilang karena canalis sevikalis membesar dan atas dan membentuk Ostium Uteri Eksterna (OUE) sebagai ujung dan bentuknya menjadi sempit.
13.              Pembentukan ostium uteri interna dan ostium uteri externa.
Pembukaan serviks disebabkan oleh karena membesarnya OUE  karena otot yang melingkar disekitar ostium meregang untuk dapat dilewati kepala. Pembukaan uteri tidak saja karena penarikan SAR akan tetapi juga karena tekanan isi uterus yaitu kepada dan kantuong amnoin. Pada primigravida dimulai dari ostium uteri internum terbuka lebih dahulu baru ostium idsterna membuka pada saat persalinan terjadi. Sedangkan pada multigravida ostium uter5i internum dan iksternum membuka secara bersama-sama pada saat persalinan terjadi.
14.              Show
Show adalah pengeluaran dari vagina yang terdiri dan sedikit lendir yang bercampur darah, lendir ini berasal dan ikstruksi lendir yang menyumbat canalis servikkalis senpanjang kehamilan sedangkan darah bersal dan desidua vera yang lepas.
15.              Tonjolan kantong ketuban
Tonjolan kantong ketuban ini disebabkan oleh adanya regangan SBR yang menyebabkan terlepasnya selaput korion yang menempel pada uterus, dengan adanya tekanan maka akan terlihat kantong yang berisi cairan yang menonjol ke ostium uteri internum yang terbuka. Cairan ini terbagi dua yaitu fore water dan hind water yang berfungsi untuk melindungi selapuat amnion agar tidak  terlepas seluruhnya. Tekanan yang diarahakan ke cairan sama dengan tekanan ke uterus sehingga akan timbul genetasi floud presur. Bila selaput ketuban pecah maka cairan tersebut akan keluar, sehingga plasenta akan ertekan dan menyebabkan fungsi plasenta terganggu. Hal ini akan menyebabkan fetus kekurangan oksigen.
16.              Pemecahan kantong ketuban
Pada akhir kala satu bila pembukaan sudah lengkap dan tidak ada tahanan lagi, ditambah dengan kontraksi yang kuat serta desakan janin yang menyebabkan kantong ketuban pecah, diikuti dengan proses kelahiran bayi.

B . Perubahan Fisiologis Kala II
1.                  Kontraksi, dorongan otot-otot dinding
Kontraksi uterus pada persalinan mempunyai sifat tersendiri. Kontraksi menimbulkan nyeri, merupakan satu-satunya kontraksi normal muskulus. Kontraksi ini dikendalikan oleh syaraf intrinsik, tidak disadari, tidak dapat diatur oleh ibu bersalin, baik frekuensi maupun lama kontraksi.
Sifat khas:
a.       Rasa sakit dari fundus merata ke seluruh uterus sampai berlanjut ke punggung bawah.
b.      Penyebab rasa nyeri belum diketahui secar pasti. Beberapa dugaan penyebab antara lain :
1)      Pada saat kontraksi terjadi kekurangan oksigen pada miometrium.
2)      Penekanan ganglion syaraf di serviks dan uterus bagian bawah.
3)      Peregangan servik akibat dari pelebaran serviks.
4)      Peregangan peritoneum sebagai organ yang menyelimuti uterus.

Pada waktu selang kontraksi/periode relaksasi diantara kontraksi memberikan dampak berfungsinya sistem-sistem dalam tubuh, yaitu :
a.    Memberikan kesempatan pada jaringan otot-otot uterine untuk beristirahat agar tidak menurunkan fungsinya oleh karena kontraksi yang kuat secara terus menerus.
b.   Memberikan kesempatan pada ibu untuk istirahat, karena rasa sakit karena kontraksi.
c.    Menjaga kesehatan janin karena pada saat kontraksi uterus mengakibatkan konstriksi pembuluh darah placenta sehingga bila secara terus menerus berkontraksi, maka akan menyebabkan hipoksia, anoksia dan kematian janin.
            Pada awal persalinan kontraksi uterus terjadi selama 15-20 detik. Pada saat memasuki fase aktif, kontraksi terjadi selama 45-90 detik rata-rata 60 detik. Dalam satu kali kontraksi terjadi 3 fase, yaitu fase naik, puncak dan turun. Pada saat fase naik lamanya 2 kali fase lainnya. Pemeriksaan kontraksi uterus meliputi, frekuensi, durasi/lama, intensitas/kuat lemah. Frekuensi dihitung dari awal timbulnya kontraksi sampai muncul kontraksi berikutnya. Pada saat memeriksa durasi/lama kontraksi, perlu diperhatikan bahwa cara pemeriksaan kontraksi uterus dilakukan dengan palpasi pada perut. Karena bila berpedoman pada rasa sakit yang dirasakan ibu bersalin  saja kurang akurat. Pada saat awal kontraksi biasanya ibu bersalin belum merasakan sakit, begitu juga pada saat kontraksi sudah berakhir, ibu bersalin masih merasakan sakit. Begitu juga dalam menentukan intensitas kontraksi uterus/kekuatan kontraksi uterus, hasil pemeriksaan yang disimpulkan tidak dapat diambil dari sberapa reaksi nyeri ibu bersalin pada saat kontraksi sudah berakhir, ibu bersalin masih merasakan sakit. Begitu juga dalam menentukan intensitas kontraksi uterus/kekuatan kontraksi uterus, hasil pemeriksaan yang disimpulkan tidak dapat diambil dari seberapa reaksi nyeri ibu bersalin pada saat kontraksi. Ambang rasa nyeri tiap individu berbeda. Pada ibu bersalin yang belum siap menghadapi persalinan, kurang matang psikologis, tidak mengerti proses persalinan yang ia hadapi akan bereaksi serius dengan berteriak keras saat kontraksi walaupun kontraksinya lemah. Sebaliknya ibu bersalin yang sudah siap menghadapi persalinan, matang psikologis, mengerti tentang proses persalinan, mempunyai ketabahan, kesabaran yang kuat, pernah melahirkan, didampingi keluarga dan didukung oleh penolong persalinan yang profesional, dapat menggunakan tehnik pernafasan untuk relaksasi, maka selama kontraksi yang kuat tidak akan berteriak. Intensitas dapat diperiksa dengan cara jari-jari tangan ditekan pada perut, bisa atau tidak uterus ditekan. Pada kontraksi yang lemah akan mudah dilakukan, tetapi pada kontraksi yang kuat, hal itu tidak mudah dilakukan. Bila dipantau dengan monitor janin, kontraksi uterus yang paling kuat pada fase kontraksi puncak tidak akan melebihi 40 mmHg.
            Selanjutnya, kesimpulan pemeriksaan kontraksi uterus tidak hanya meliputi, frekuensi, durasi/lama, intensitas/kuat lemah tetapi perlu diperhatikan juga pengaruh dari ketiga hal tersebut mulai dari kontraksi yang belum teratur hingga akhir persalinan. Misalnya pada awal persalinan, kontraksi uterus setiap 20-30 menit selama 20-25 detik, intensitas ringan lama-kelamaan menjadi 2-3 menit, lama 60-90 detik, kuat, maka hal ini akan menghasilkan pengeluaran janin. Bila ibu bersali mulai berkontraksi selama 5 menit selama 50-60 detik dengan intensitas cukup kuat maka dapat terjadi kontraksi tidak dapat teratur, frekuensi lebih sering, durasi lebih lama. Terkadang dapat terjadi disfungsi uterin, yaitu kemajuan proses persalinan yang meliputi dilatasi servik/pelebaran serviks, mekanisme penurunan kepala memakan waktu yang lama, tidak sesuai dengan harapan.
            Kontraksi uterus bervariasi pada setiap bagian karena mempunyai pola gradien. Kontraksi yang kuat mulai dari fundus hingga berangsur-angsur berkurang dan tidak ada samasekali kontraksi pada serviks. Hal ini memberikan efek pada uterus sehingga uterus terbagi menjadi 2 zona, yaitu zona atas dan zona bawah uterus. Zona atas merupakan zona yang berfungsi mengeluarkan janin karena merupakan zona yang berkontraksi dan menebal, dan sifatnya aktif. Zona ini terbentuk akibat mekanisme kontraksi otot. Pada saat relaksasi panjang otot tidak bisa kembali ke ukuran semula, ukuran panjang otot selama masa relaksasi semakin memendek, dan setiap terjadi relaksasi ukuran panjang otot semakin memendek dan demikian seterusnya setiap kali terjadi relaksasi sehingga zona atas semakin menebal dan mencapai batas tertentu pada saat zona bawah semakin tipis dan luas.
            Sedangkan zona bawah terdiri dari istmus dan servik uteri. Pada saat persalinan istmus uteri disebut sebagai segmen bawah rahim. Zona ini sifatnya pasif tidak berkontraksi seprti zona atas. Zona bawah menjadi tipis dan terbuka akibat dari sifat pasif dan pengaruh dari kontraksi pada zona atas sehingga janin dapat melewatinya. Jika zona bawah ikut berkontraksi seperti zona atas maka tidak terjadi dilatasi/pembukaan servik, hal ini dapat mempersulit proses persalinan.
2. Uterus
Terjadi perbedaan pada bagian uterus:
a.       Segmen atas : bagian yang berkontraksi, bila dilakukan palpasi akan teraba keras saat kontraksi.
b.      Segmen bawah : terjadi atas uterus dan serviks, merupakan daerah yang teregang, bersifat pasif. Hal ini mengakibatkan pemendekan segmen bawah uterus.
c.       Batas antara segmen atas dan segmen bawah uterus membentuk lingkaran cincin retraksi fisiologis. Pada keadaan kontraksi uterus inkoordinasi akan membentuk cicin retraksi patologis yang dinamakan cincin bandl.
Perubahan bentuk :
Bentuk uterus menjadi oval yang disebabkan adanya pergerakan tubuh janin yang semula membungkuk menjadi tegap, sehingga uterus mnjadi bertambah panjang 5-10cm.
3. Perubahan ligamentum rotundum
Pada saat kontraksi uterus ligamentum rotundum yang mengandung otot-otot polos ikut berkontraksi sehingga ligamentum rotundum menjadi pendek.
Faal ligamentum rotundum dalam persalinan :
a.                   Fundus uteri pada saat kehamilan bersandar pada tulang belakang, ketika persalinan berlangsung berpindah ke depan mendesak kedinding perut bagian depan ke depan pada setiap kontraksi. Perubahan ini menjadikan sumbu rahim searah dengan sumbu jalan lahir.
b.                  Fundus uteri terlambat terjadi karena adanya kontraksi ligamentum rotundum pada saat kontraksi uterus, hal ini menyebabkan fundus tidak dapat naik ke atas. Bila pada waktu kontraksi fundus naik ke atas maka kontraksi itu tidak dapat mendorong anak ke bawah.
4.                  Effasment dan dilatasi serviks
Pengaruh tidak langsung dari kontraksi uterus adalah terjadinya affasment dan dilatasi serviks. Effasment merupakan pemendekan/pendataran ukuran dari panjang kanalis servikalis. Ukuran normal kanalis servikalis 2-3 cm. Ketika terjadi effasment ukuran panjang kanalis servikalis menjadi semakin pendek dan akhirnya sampai hilang. Pada pemeriksaan dalam teraba lubang dengan pinggir yang tipis. Proses effasmentini diperlancar dengan adanya pengaturan seperti pada celah endoservik yang mempunyai efek membuka dan meregang. Pemeriksaan kemajuan persalinan untuk menilai proses effasment ini dengan presentase 0% berarti belum terjadi effasment 100% berarti sudah terjadi total effasment.
Dilatasi adalah pembesaran ukuran ostium uteri interna (OUI) yang kemudian disusul dengan pembesaran ukuran ostium uteri eksterna (OUE). Pembesaran ini berbeda antara primigravida dan multi gravida. Ostium uteri interna sudah sedikit membuka pada multigravida. Proses dilatasi ini dibantu/dipermudah oleh tekanan hidrostatik cairan amnion. Tekanan hidrostatik cairan amnion terjadi akibat dari kontraksi uterus.
Kemajuan persalinan pada dilatasi/pembukaan serviks dengan cara mengukur diameter serviks dalam centimeter 0-10 pada bagian ostium uteri eksterna. Ukuran nol (0) centimeter bila ostium serviks eksterna tertutup, diameter 10 cm bila dilatasi ostium serviks eksterna sudah lengkap.
Pada saat proses persalinan effasment awal dan dilatasi tidak sama antara primigravida dan multigravida. Pada primigravida terjadi effasment 50%-60% pada pembukaan 1cm sebelum persalinan sebagai akibat dari kontraksi Braxton-Hicks. Hal ini merupakan proses kematangan serviks sebagai tanda premonitori persalinan. Kemajuan perubahan serviks selama persalinan pada umumnya terjadi secara berurutan, kemudianterjadi kombinasi effasment dan dilatasi secara bersamaan setelah effasment 50%-100%. Tanda persalinan aktiv dengan adanya serviks menjadi keras. Pada multigravida memasuki persalinan biasanya terjadi dilatasi serviks 1-2cm atau lebih tergantung pada paritas, biasanya tidak terjadi atau sedikit terjadi effasment. Effasment dan dilatasi merupakan salah satu indikator seorang ibu masuk persalinan awal atau masih dalam tanda-tanda persalinan palsu.

Station
Station adalah salah satu indikator untuk menilai kemajuan persalinan yaitu dengan cara menilai keadaan hubungan antara bagian paling bawah presentasi terhadap garis imajinasi/bayangan setinggi spina iskiadika. Penilaian station dengan ukuran cm. Station 0 berarti bagian bawah presentasi setinggi spina iskhiadika. Hasil +1, +2, +3, +4, dan +5 berarti presentasi berada dibawah spina iskhiadika setinggi 1, 2, 3, 4, dan 5 cm di atas garis imajinasi spina iskhiadika. Hasil -1, -2, -3, -4, dan -5 berarti presentasi berada di atas 1, 2, 3, 4, dan 5 cm di bawah garis imajinasi spina iskhiadika. Perlu berhati-hati dalam menentukan hasil pemeriksaan station karena hasil pemeriksaan dapat keliru bila terdapat molding atau tulang tengkorak janin saling menumpuk atau terjadi kaput suksedanium.
Untuk persiapan memberikan asuhan kebidanan, perlu diperhatikan riwayat, keadaan fisik dan pelvis atau panggul, umur ibu, riwayat obstetri, intensitas kontraksi ketika berbaring dibanding ketika berjalan, lokasi nyeri selama kontraksi, lama persalinan sebelumnya, jarak kehamilan, waktu kontraksi, frekuensi, ukuran terbesar dan terkecil janin sebelumnya, umur kehamilan.
Perubahan vagina dan besar panggul bagian atas vagina sejak kehamilan mengalami perubahan-perubahan, dan pada kala I ketuban ikut meregangkan sehingga dapat dilalui oleh janin. Pada saat ketuban pecah perubahan-perubahan pada vagina dan dasar panggul menjadi teregang sehingga membentuk saluran dengan dinding-dinding yang tipis. Hal ini terutama diakibatkan bagian depan anak. Pada saat kepala sampai pada vulva, lubang vulva membuka keatas. Apabila diperiksa dari luar terjadi peregangan pada bagian depan yaitu daerah perineum menjadi menonjol dan tipis, anus menjadi terbuka. Pada vagina dan dasar panggul terjadi regangan yang kuat, dimungkinkan karena bertambahnya pembuluh darah. Apabila jaringan ini robek maka menimbulkan perdarahan yang banyak.

c.                   Fisiologi Kala III
Kala III dimulai sejak bayi lahir sampai lahirnya placenta/uri. Rata-rata lama kala III berkisar 15-30 menit, baik pada primipara maupun multipara. Tempat implantasi placenta sering pada dinding depan dan belakang korpus uteri atau dinding lateral. Sangat jarang terdapat pada fundus uteri. Bila terletak pada segmen bawah rahim/SBR, keadaan ini disebut placenta previa.

Fase-fase kala III
1.                  Pelepasan Placenta
Setelah bayi lahir, terjadi kontraksi uterus. Hal ini mengakibatkan volume rongga uterus berkurang. Dinding uterus menebal. Pada tempat implantasi placenta juga terjadi penurunan luas area. Ukuran placenta tidak berubah, sehingga menyebabkan placenta terlipat, menebal dan akhirnya terlepas dari dinding uterus. Placenta terlepas sedikit demi sedikit. Terjadi pengumpulan perdarahan di antara ruang placenta dan desidua basalis yang disebut retroplacenter hematom. Setelah placenta terlepas, placenta akan menempati segmen bawah uterus atau vagina.
Macam pelepasan placenta
1.                  Mekanisme schultz : pelepasan placenta yang dimulai dari sentral/bagian tengah sehingga terjadi bekuan retroplacenta. Cara pelepasan ini sering terjadi. Tanda pelepasan dari tengah ini mengakibatkan perdarahan tidak terjadi sebelum placenta lahir. Perdarahan banyak terjadi segera setelah placenta lahir.
2.                  Mekanisme duncan : terjadi pelepasan placenta dari pinggir atau bersamaan dari pinggir dan tengah placenta. Hal ini mengakibatkan terjadi semburan darah sebelum placenta lahir.

Tanda-tanda pelepasan placenta
1.   Perubahan bentuk uterus. Bentuk uterus yang semula discoid menjadi globuler akibat dari kontraksi uterus.
2.   Semburan darah tiba-tiba.
3.   Tali pusat memanjang.
4.   Perubahan posisi uterus. Setelah placenta lepas dan menempati segmen bawah rahim, maka uterus muncul pada rongga abdomen.

Pengeluaran placenta
Placenta yang sudah lepas dan menempati segmen bawah rahim, kemudian melalui cerviks, vagina dan dikeluarkan ke intruitus vagina.

Pemeriksaan pelepasan placenta dengan cara  Kustner : tali pusat diregangkan dengan tangan kanan, tangan kiri menekan atas sympisis. Penilaian :
a.       Tali pusat masuk berarti belum lepas.
b.      Tali pusat bertambah panjang atau tidak masuk berarti lepas.

2.Pengawasan perdarahan
1.      Selama hamil aliran darah ke uterus 500-800 ml/mnt.
2.      Uterus tidak kontraksi dapat menyebabkan kehilangan darah sebanyak 350-500 ml.
3.      Kontraksi uterus akan menekan pembuluh darah uterus diantara anyaman miometrium.
Fisiologi Kala IV
Persalinan kala IV dimulai sejak placenta lahir sampai dengan 2 jam sesudahnya, adapun hal-hal yang perlu diperhatikan adalah kontraksi uterus sampai uterus kembali ke bentuk normal. Hal itu dapat dilakukan dengan  melakukan rangsangan taktil (mamase) untuk merangsang uterus berkontraksi baik dan kuat. Perlu juga dipastikan bahwa placenta telah lahir lengkap dan  tidak ada yang tersisa sedikitpun dalamuterus dan benar- benar dijamin tidk terjadi pendarahan.
Evaluasi uterus : konsistensi, atonia
Perlu diperhatikan bahwa kontraksi uterus mutlak diperlukan untuk mencegah terjadinya perdarahan dan pengembalian uterus ke bentuk normal. Kontraksi uterus yang tidak kuat dan terus menerus dapat menyebabkan terjadinya atonia uteri yang dapat mengganggu keselamatan ibu. Untuk itu evaluasi terhadap uterus pasca pengeluaran placenta sangat penting untuk diperhatikan. Untuk membantu uterus berkontraksi dapat dilakukan dengan mamase agar uterus tidak lembek dan mampu berkontraksi dengan kuat. Kalau dengan usaha ii uterus tidak mau berkontraksi dengan baik dapat diberikan obat oksitosin dan harus diawasi sekurang-kurangnya selama 1 jam sambil mengamati terjadinya perdarahan pospartum.


7.    Mekanisme persalinan
Pembagian Fase/Kala Persalinan
Pembagian fase/kala persalinan menurut WIknyosastro, dkk (1999 : 181) sebagai berikut:
1.        Kala 1  Pematangan dan pembukaan serviks sampai lengkap (kala pembukaan)
2.         Kala 2 Pengeluaran bayi (kala pengeluaran)
3.         Kala 3 Pengeluaran plasenta (kala uri)
4.        Kala 4  Masa 1 jam setelah partus, terutama untuk observasi

Periode tahap-tahap persalinan normal menurut Kampono dan M.  Moegni (1999) sebagai berikut :
Tabel 2.1.
Periode Tahap-tahap Persalinan Normal

Tahap Persalinan
Nullipara
Multipara
Kala 1 – fase laten
              Fase aktif
Pembukaan serviks
Kala 2
Kala 3
Kurang dari 20 jam
5 – 8 jam
Rata-rata 1,2 cm/jam
Kurang dari 2 jam
Kurang dari 30 menit
Kurang dari 14 jam
2 – 5 jam
Rata-rata 1,5 cm/jam
Kurang dari 1 jam
Kurang dari 30 menit
2.3.2 HIS
His menurut Kampono dan M.  Moegni (1999) adalah gelombang kontraksi ritmis otot polos dinding uterus yang dimulai dari daerah fundus uteri di mana tuba falopii memasuki dinding uterus, awal gelombang tersebut didapat dari ‘pacemaker’ yang terdapat di dinding uterus daerah tersebut. WIknyosastro, dkk (1999 : 188) menyatakan bahwa his adalah salah satu kekuatan pada ibu yang menyebabkan serviks membuka dan mendorong janin ke bawah.
Resultante efek gaya kontraksi tersebut dalam keadaan normal mengarah ke daerah lokus minoris yaitu daerah kanalis servikalis (jalan lahir) yang membuka, untuk mendorong isi uterus ke luar.
Terjadinya his  menurut Kampono dan M.  Moegni (1999)  akibat :
1.    Kerja hormon oksitosin
2.    Regangan dinding uterus oleh isi konsepsi 3
3.    Rangsangan terhadap pleksus saraf Frankenhauser yang tertekan massa konsepsi.
His yang baik dan ideal menurut Kampono dan M.  Moegni (1999)  meliputi:
1.    Kontraksi simultan simetris di seluruh uterus
2.    Kekuatan terbesar (dominasi) di daerah fundus
3.    Terdapat periode relaksasi di antara dua periode kontraksi.
4.    Terdapat retraksi otot-otot korpus uteri setiap sesudah his
5.    Serviks uteri yang banyak mengandung kolagen dan kurang mengandung serabut otot, akan tertarik ke atas oleh retraksi otot-otot korpus, kemudian terbuka secara pasif dan mendatar (cervical effacement). Ostium uteri eksternum dan internum pun akan terbuka.
Nyeri persalinan pada waktu his menurut Kampono dan M.  Moegni (1999) dipengaruhi berbagai faktor :
1.   Iskemia dinding korpus uteri yang menjadi stimulasi serabut saraf di pleksus hipogastrikus diteruskan ke sistem saraf pusat menjadi sensasi nyeri.
2.   Peregangan vagina, jaringan  lunak dalam rongga panggul dan peritoneum, menjadi rangsang nyeri.
3.   Keadaan  mental pasien (pasien bersalin sering ketakutan, cemas/ anxietas, atau eksitasi).
4.   Prostaglandin meningkat sebagai respons terhadap stress


Gerakan – gerakan terutama yang terjadi pada persalinan  ada 7 gerakan , yaitu:


a.Turunnya kepala
b. Fleksi
c. Putaran paksi dalam
d. Ekstensi
e. Putaran paksi luar
f. Ekspulsi




Dalam kenyataannya beberapa gerakan terjadi secara bersamaan.

a. Turunnya kepala
Turunnya kepala dibagi dalam :
1) masuknya kepala dalam pintu atas panggul

Masuknya kepala ke dalam pintu atas panggul pada primigravida sudah terjadi pada bulan terakhir kehamilan tetapi pada multipara biasanya baru terjadi pada permulaan persalinan. Masuknya kepala ke dalam pintu atas panggul biasanya dengan sutura sagitalis melintang dan dengan fleksi yang ringan. Apabila sutura sagitalis berada di tengah-tengah jalan lahir, tepat diantara symphysis dan promotorium, maka dikatakan kepala dalam keadaan synclitismus.

Pada synclitismus os parietale depan dan belakang sama tingginya. Jika sutura sagitalis agak ke depan mendekati symphysis atau agak ke belakang mendekati promotorium, maka dikatakan asynclitismus. Dikatakan asynclitismus posterior, ialah kalau sutura sagitalis mendekati symphysis dan os parietale belakang lebih rendah dari os parietale depan, dan dikatakan asynclitismus anterior ialah kalau sutura sagitalis mendekati promotorium sehingga os parietale depan lebih rendah dari os parietale belakang. Pada pintu atas panggul biasanya kepala dalam asynclitismus posterior yang ringan.

2) majunya kepala
Pada primigravida majunya kepala terjadi setelah kepala masuk ke dalam rongga panggul dan biasanya baru mulai pada kala II. Pada multipara sebaliknya majunya kepala dan masuknya kepala dalam rongga panggul terjadi bersamaan. Majunya kepala ini bersamaan dengan gerakan-gerakan yang lain yaitu : fleksi, putaran paksi dalam, dan ekstensi.

Penyebab majunya kepala antara lain :
(a) tekanan cairan intrauterine
(b) tekanan langsung oleh fundus pada bokong
(c) kekuatan mengejan
(d) melurusnya badan anak oleh perubahan bentuk rahim.

b. Fleksi
Dengan majunya kepala biasanya fleksi bertambah hingga ubun-ubun kecil jelas lebih rendah dari ubun-ubun besar. Keuntungan dari bertambah fleksi ialah bahwa ukuran kepala yang lebih kecil melalui jalan lahir: diameter suboksipito bregmatika (9,5 cm) menggantikan diameter suboksipito frontalis (11 cm).
Fleksi ini disebabkan karena anak didorong maju dan sebaliknya mendapat tahanan dari pinggir pintu atas panggul, serviks, dinding panggul atau dasar panggul. Akibat dari kekuatan ini adalah terjadinya fleksi karena moment yang menimbulkan fleksi lebih besar dari moment yang menimbulkan defleksi.









c. Putaran paksi dalam
Yang dimaksud dengan putaran paksi dalam adalah pemutaran dari bagian depan sedemikian rupa sehingga bagian terendah dari bagian depan memutar ke depan ke bawah symphisis. Pada presentasi belakang kepala bagian yang terendah ialah daerah ubun-ubun kecil dan bagian inilah yang akan memutar ke depan dan ke bawah symphysis.

Putaran paksi dalam mutlak perlu untuk kelahiran kepala karena putaran paksi merupakan suatu usaha untuk menyesuaikan posisi kepala dengan bentuk jalan lahir khususnya bentuk bidang tengah dan pintu bawah panggul. Putaran paksi dalam bersamaan dengan majunya kepala dan tidak terjadi sebelum kepala sampai Hodge III, kadang-kadang baru setelah kepala sampai di dasar panggul.

Sebab-sebab terjadinya putaran paksi dalam adalah :
1. Pada letak fleksi, bagian belakang kepala merupakan bagian terendah dari kepala
2. Bagian terendah dari kepala ini mencari tahanan yang paling sedikit terdapat sebelah depan atas dimana terdapat hiatus genitalis antara m. levator ani kiri dan kanan.
3) ukuran terbesar dari bidang tengah panggul ialah diameter anteroposterior.


d. Ekstensi
Setelah putaran paksi selesai dan kepala sampai di dasar panggul, terjadilah ekstensi atau defleksi dari kepala. Hal ini disebabkan karena sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul mengarah ke depan atas, sehingga kepala harus mengadakan ekstensi untuk melaluinya.

Pada kepala bekerja dua kekuatan, yang satu mendesak nya ke bawah dan satunya disebabkan tahanan dasar panggul yang menolaknya ke atas.
Setelah suboksiput tertahan pada pinggir bawah symphysis akan maju karena kekuatan tersebut di atas bagian yang berhadapan dengan suboksiput, maka lahirlah berturut-turut pada pinggir atas perineum ubun-ubun besar, dahi, hidung, mulut dan akhirnya dagu dengan gerakan ekstensi. Suboksiput yang menjadi pusat pemutaran disebut hypomochlion.

e. Putaran paksi luar
Setelah kepala lahir, maka kepala anak memutar kembali ke arah punggung anak untuk menghilangkan torsi pada leher yang terjadi karena putaran paksi dalam. Gerakan ini disebut putaran restitusi (putaran balasan = putaran paksi luar).
Selanjutnya putaran dilanjutkan hingga belakang kepala berhadapan dengan tuber isciadicum sepihak. Gerakan yang terakhir ini adalah putaran paksi luar yang sebenarnya dan disebabkan karena ukuran bahu (diameter biacromial) menempatkan diri dalam diameter anteroposterior dari pintu bawah panggul.
f. Ekspulsi
Setelah putaran paksi luar bahu depan sampai di bawah symphysis dan menjadi hypomoclion untuk kelahiran bahu belakang. Kemudian bahu depan menyusul dan selanjutnya seluruh badan anak lahir searah dengan paksi jalan lahir.
















BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

3.1.       Simpulan
Berdasarkan uraian tentang fisiologi dan mekanisme persalinan normal, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.    Pesalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin.
2.    Faktor penting yang memegang peranan pada persalinan, ialah : 1) kekuatan-kekuatan yang ada pada ibu seperti kekuatan his dan kekuatan mengedan, 2) keadaan jalan lahir, 3) janinnya sendiri.
3.    Pembagian fase/kala persalinan sebagai berikut:
a.    Kala 1 Pematangan dan pembukaan serviks sampai lengkap (kala pembukaan)
b.     Kala 2 Pengeluaran bayi (kala pengeluaran)
c.     Kala 3 Pengeluaran plasenta (kala uri)
d.   Kala 4  Masa 1 jam setelah partus, terutama untuk observasi
4.    Hampir 96% janin berada dalam uterus dengan presentasi presentasi kepala. Mekanisme persalinan normal :  kepala masuk pintu atas panggul (sinklitismus/asinklitismus)→flexi maximal sampai pada dasar panggul→putaran paksi dalam→gerakan deflexi→kepala lahir→putaran paksi luar→lahir bahu depan→lahir bahu belakang→trokhanter depan→trkhanter belakang→bayi lahir seluruhnya.

3.2.       Saran
Saran-saran yang dapat kami sampaikan sehubungan dengan tulisan makalah ini sebagai berikut :
1.    Bidan perlu memahami interaksi fisiologis dan faktor eksternal yang dapat mempengaruhi persalinan pada manusia agar perawatan intrapatus dapat ditingkatkan.
2.    Pengembangan keterampilan observasi memungkinkan bidan tidak hanya dapat menginterpretasi bagaimana seorang wanita menghadapi persalinan, tetapi juga dapat menentukan bagaimana kemajuan persalinan dengan mengamati respon prilaku dan fisik wanita yang sedang melahirkan. Dengan tidak mengetahui, mengabaikan atau menyalahartikan petunjuk fisik tertentu, bidan mungkin secara tidak sengaja memberi perawatan yang suboptimal.
3.    Intervensi pada persalinan harus memiliki dasar dan keputusan mengenai hal ini harus disokong untuk memaksimalkan kesejahteraan ibu dan janin. Pengetahuan mengenai efek intervensi pada fisiologi janin dan ibu merupakan hal esensial sehingga bidan dapat menilai efektivitas dan dengan cepat mengidentifikasi kemungkina penyimpangan yang terjadi akibat intervensi tersebut.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar